"Dia
menyingsingkan pagi dan menjadikan malam untuk beristirahat, serta matahari dan
bulan untuk perhitungan. Itulah ketentuan Yang Maha Perkasa dan Maha Mengetahui."
(QS. Al-An'am 6:96)
"Sesungguhnya bilangan bulan di sisi Allah ialah dua belas
bulan, dalam ketetapan Allah pada hari Dia menciptakan planet-planet dan bumi,.........." (Qs. at-Taubah 9:36)
Berpikir adalah keistimewaan bagi makhluk ciptaan Allah Swt. yang
bernama manusia. Berpikir juga sebagai pembeda manusia dengan makhluk
ciptaan-Nya yang lain. Dua buah dalil Naqli diatas adalah dalil yang dijadikan
sebagai pedoman waktu, baik waktu siang dan malam atau waktu selama setahun.
Loh, hubungannya apa?
Seperti yang kita ketahui, apa yang telah Allah Swt. Tetapkan,
tentunya ada hikmah yang dapat kita pelajari, sebagai aplikasi dari Iman kepada
Qada’ dan Qadar. Yang pada konteksnya, dengan dua dalil naqli diatas,
menunjukan betapa besarnya kuasa Allah Swt. Sabda Rasulullah Saw. “Berpikirlah
kamu tentang ciptaan Allah, dan janganlah kamu berpikir tentang Dzat Allah”.
Ya, dengan berpikir tentang ciptaan Allah sudah cukup bagi kita untuk percaya
pada Dzat Allah Swt. Sebagai Tuhan alam semesta.
Keutamaan berpikir salah satunya adalah sebagai pangkal dari
segala kebaikan. Pada konteks dalil yang pertama, “Allah menciptakan waktu pagi
dan malam”. Tujuannya adalah agar kita sebagai manusia bisa memanajemen semua
aktivitas yang kita lakukan. Kita bisa mengatur mana aktivitas yang harus
dilakukan pada waktu pagi atau siang hari, dan mana aktivitas yang dilakukan
pada malam hari. bahkan, kita juga bisa memprioritaskan kapan saat beraktivitas
dan kapan saat beribadah. dengan begitu, predikat disiplin sudah pastinya kita
dapatkan, yang merupakan salah satu akhlak terpuji.
Pada konteks dalil kedua, “bilangan bulan di
sisi Allah ialah dua belas bulan”, sama dengan contoh pertama tadi, dalam
konteks ini, menjadikan kita lebih bisa memprioritaskan aktivitas dalam jangka
waktu yang panjang yaitu hitungan minggu, bulan dan tahun. Kita sebagai
mahasiswa pasti memiliki target yang harus dicapai dalam jangka waktu
perminggu, perbulan ataupun pertahun. Misalnya, Kita harus menyelesaikan 1 buah
makalah dalam waktu satu minggu, atau kita harus bekerja dalam sebulan untuk
mendapatkan gaji untuk biaya kuliah. Bahkan kita juga harus menargetkan berapa
tahun kita berstatus sebagai mahasiswa.
Juga Harus kita pikirkan tentang waktu adalah kematian. Tidak ada
satupun makhluk yang mengetahui kapan malaikat Israil menjemput kita, kecuali
Allah Swt. Ada baiknya jika kita mengingat kembali kebelakang, dari sejak kita
kecil sampai sekarang, apakah sudah cukup bekal amal yang akan kita bawa jika
secara tiba-tiba malaikat Israil menjemput kita ? pasti ada yang menjawab tidak
cukup atau bahkan tidak ada sama sekali.
Buah dari berpikir salah satunya adalah Kita bisa memahami bahwa akhirat itu lebih utama, dan dunia hanya
sarana untuk membangun kebahagiaan akhirat. Singkat kata,
sebagai Muslim kita wajib mengevaluasi diri pribadi terhadap apa yang telah
kita lakukan pada masa lalu untuk kebaikan pada masa depan, khususnya untuk
akhirat. Dengan hadirnya tahun baru Hijriah membuat kita berpikir bahwa sudah
berkurang jatah hidup kita untuk beribadah.
Berbeda dengan tahun Masehi, Pada tahun Hijriah ada bulan-bulan
tertentu yang diharamkan beberapa hal, yang membuat kita harus menghindari
hal-hal yang dilarang dan ada juga bulan-bulan tertentu Allah muliakan,
sehingga kita dapat memperoleh keuntungan dalam hal amal. Banyak hikmah dari
tahun Hijriah yang bisa kita pikirkan. jadi, 1 Muharram adalah momen yang tepat
untuk mulai memperbaiki diri.
Jika konteksnya kita sebagai mahasiswa, mulailah dari hal-hal
terkecil dalam memanajemen waktu, kapan saatnya beribadah kepada Allah,
membantu orang tua, kuliah, mengerjakan tugas, bekerja, dan berorganisasi.
Jangan pernah sia-siakan waktu yang telah Allah sediakan. Karena Waktu bagaikan
pedang yang siap memotong kita jika tidak digunakan dengan baik. Dengan
perubahan pada hal-hal kecil dapat membuat perubahan yang besar bagi dunia dan
untuk akhirat. Karena kelak kita tidak ingin mengatakan “seandainya dulu....”.
Jadikan tahun berikutnya lebih baik daripada tahun lalu. Wallahu ‘alam. (Fauziah Maisarah)
Tidak ada komentar:
Posting Komentar